{:id}

Sesuai dengan misi Tani Group berkaitan dengan peningkatan industri agrikultur di Indonesia, TaniFund memperluas cakupannya ke industri perikanan dengan menyalurkan pembiayaan kepada peternak ikan lokal yang tergabung dalam asosiasi IWA-KE. Project untuk ikan patin dan ikan gurame berhasil mengumpulkan dana sebesar 1.7 milyar rupiah dari masyarakat, dengan jangka waktu project satu (1) tahun, dimana pengembalian imbal hasil dan pokok akan dilakukan di akhir periode.

Sebagai tambahan, TaniFund juga mengusung misi pendanaan berdampak, baik dari segi sosial, lingkungan maupun keduanya. Nilai dampak ini dapat dilihat dari jenis-jenis project yang dikampanyekan oleh TaniFund kepada calon pendana. TaniFund dan IWA-KE bersama-sama mengusung nilai ini, nilai untuk memiliki andil dalam menumbuhkan perbaikan berkelanjutan di masyarakat sekitar.

IWA-KE, sebuah program pembudidayaan ikan yang beretika

IWA-KE adalah sebuah asosiasi peternak ikan yang berlokasi di Ciseeng, Bogor, yang menjadi pelopor dari metode budidaya yang beretika dan berkelanjutan. Konsep ini bertujuan untuk memproduksi ikan dengan kualitas yang lebih baik: konsumen akan menerima produk yang aman untuk dikonsumsi dan juga sehat, tidak hanya enak dan lezat. Kualitas ini dapat diperoleh melalui metode pembiakan ikan. Terdapat beberapa keunggulan dari metode pembiakan IWA-KE dibanding metode konvensional.

Pertama, ukuran dan kedalaman kolam. Kolam milik IWA-KE memiliki diameter 12m dan kedalaman 2m, lebih besar dibandingkan kolam pada umumnya. Besar kolam sangat mempengaruhi pertumbuhan ikan-ikan. Banyaknya ruang akan meningkatkan pencapaian pertumbuhan optimal. Selain itu, kolam yang lebih besar juga membantu stabilitas suhu air karena suhu air yang berfluktuasi dapat menimbulkan stres bagi para ikan. Kolam yang lebih dalam juga membantu memastikan bahwa sinar matahari tidak dapat mencapai dasar kolam, sehingga memperkecil kemungkinan tumbuhnya ganggang atau organisme lain yang dapat mengganggu ekosistem kolam.

Aerial view of IWA-KE’s ponds

Kedua, pakan ikan. Sama seperti ekosistem, pakan yang dikonsumsi ikan juga akan menentukan kualitas dari ikan tersebut. Ikan yang diberi makan pelet dan pakan ikan sejenisnya, akan menghasilkan daging yang lebih lezat dan sehat. Walau begitu, masih banyak peternak ikan yang memberi makan ikan mereka dengan makanan sisa atau limbah organik lain dikarenakan harga yang relatif lebih murah. Di sisi lain, IWA-KE hanya memberi pelet kepada ikan-ikan mereka untuk menjaga kualitas hasil panen.

Ketiga, sistem pembuangan limbah. Untuk mengurangi bau dan rasa yang kurang sedap dari daging ikan, IWA-KE merancang sistem pembuangan limbah di kolam mereka untuk mengeluarkan kotoran ikan. Dengan menyalurkan limbah kotoran ikan keluar kolam setiap hari, air kolam menjadi lebih bersih dibandingkan kolam tanpa pembuangan. Hal ini mempengaruhi kebersihan ikan, dan selanjutnya kualitas dari daging yang dihasilkan.

Keempat, antibiotik alami. Penggunaan antibiotik kimiawi sudah dilarang oleh Pemerintah, namun pada praktiknya, penerapannya masih longgar. IWA-KE memilih untuk menggunakan antibiotik alami yakni bahan-bahan herbal seperti contohnya jahe, kunyit, daun pepaya dan bawang putih. Antibiotik memiliki peran penting dalam memastikan sistem imunitas para ikan. Antibiotik membuat para ikan lebih tahan akan infeksi dan penyakit, sekaligus meningkatkan daya hidup.

IWA-KE memiliki determinasi untuk menyediakan daging yang sehat bagi para konsumennya, dapat dilihat dari betapa seriusnya mereka memperhatikan faktor-faktor tersebut diatas. Proses penjagaan kualitas produk sudah terintegrasi mulai dari proses pembiakan ikan. IWA-KE memastikan praktik kerja mereka memiliki etika, untuk ikan-ikan dan konsumen mereka.

Dampak sosial yang lebih luas

Seiring dengan komitmen untuk menyediakan ikan sehat kepada konsumen, IWA-KE juga menjalankan praktik yang berdampak secara sosial. Pada masa panen, para ibu rumah tangga di lingkungan sekitar lokasi IWA-KE akan diberdayakan untuk aktivitas paska panen, seperti pemotongan, pengasapan dan pengepakan, dimana IWA-KE akan memberikan kompensasi finansial bagi mereka. Dengan adanya penghasilan tambahan ini, para ibu rumah tangga dapat berkontribusi pada keuangan rumah tangga mereka.

Hal ini memberikan implikasi lebih kepada masyarakat. TaniFund, melalui fasilitas dana sokongan (crowdfunding), memfasilitasi IWA-KE untuk membangun lebih banyak kolam. Ketika musim panen tiba, kolam-kolam ini akan menghasilkan lebih banyak ikan, dan memberikan lebih banyak pekerjaan kepada lebih banyak lagi ibu rumah tangga di lingkungan sekitar. Efek bola salju yang bergulir.

Terlebih lagi, IWA-KE memiliki semangat untuk membagikan ilmu mereka kepada orang lain. Tidak hanya ilmu mengenai cara etis membudidayakan ikan, namun juga hal-hal lain yang berkaitan dengan perikanan, seperti cara membunuh ikan yang tepat dan etis, serta informasi mengenai industri perikanan.

Proyek budidaya ikan dengan IWA-KE ini merupakan salah satu upaya dedikasi Tani Group dalam menciptakan dan menjaga dampak sosial dalam aktivitas bisnis.

Empowered local farmers; connecting farms with people; together growing the future.

{:}{:en}

In alignment with Tani Group mission of improving the agricultural industry in Indonesia, TaniFund expanded its coverage into fisheries, by funding a project by local fish farmers under IWA-KE association. The projects for both the pangasius (its meat is normally known as dory) and the gourami successfully raised IDR 1.7 billion from the public, with the project term of one (1) year whereas return and principal repayment will be done by the end of the term.

In addition to that, TaniFund also carry the mission of being impactful, may it be socially, environmentally or both. This value of impact is translated in the kind of projects that TaniFund chose to put in its platform and introduced to the potential investors. TaniFund and IWA-KE share this value: the value of deeper and more sustainable improvement of the broader society.

 

IWA-KE, a new form of ethical fish-farming

IWA-KE is an association of fish breeders located in Ciseeng, Bogor, who pioneered ethical and  sustainable fish cultivation method. The whole concept was aimed to produce fishes with better quality: consumers will receive products that are safe to consume and healthy, in addition to the guaranteed delicious taste. This quality can be achieved through the breeding method. There are few differences between the conventional breeding and IWA-KE breeding features.

First, the size and the depth of the pond. IWA-KE’s ponds are 12m in diameter and 2m deep, significantly larger than common ponds. The ponds size will affect the growth of the fish. With the space to grow, it will increase the chance of the optimum fish growth. Furthermore, the bigger pond will ensure the stability of the temperature of the water because fluctuating water temperature will cause stress to the fish. The deeper ponds ensure that long sun exposure will not reach the bottom of the pond, that will also limit the growth of algae and other organisms that will potentially harm the ecosystem of the pond.

Aerial view of IWA-KE’s ponds

 

Second, the food. Similar with the ecosystem, the food intake of the fish will determine the quality of the meat. Fishes that are fed with flakes, pellets or any other food specifically made for fishes, will produce tastier and healthier meat. However, most fish farmers feed the fish with a combination of leftover human food and, sometimes, organic waste because they are relatively cheaper. IWA-KE, on the other hand, only feed their fishes with pellets to maintain the quality of the harvest.

Third, the sewage system. To reduce the unpleasant taste and smell of the fish meat, IWA-KE designed their ponds so that the waste from the fish can be discharge out of the ponds. By disposing the waste produced by the fishes on daily basis, the water in which the fishes are breed becomes cleaner in comparison to ponds without sewage system. This will affect the cleanliness of the fish and, in turn, the quality of the meats produced.

Fourth, the natural antibiotics. The using of chemical antibiotics on fish has actually been banned by the government, but the enforcement of its practice is still loose. Instead of using the chemical ones, IWA-KE choose the natural ones, a variety of herbs, e.g. ginger, turmeric, papaya leaves and garlic. Antibiotics play an important role to assure the immune system of the fish. It makes fishes more resistant against infections and disease, also improve their life expectancy.

IWA-KE is determined to provide healthy meat for their consumers, which is observable from the way they take serious care of all the factors above. The quality control of their products is integrated throughout the cultivation process. IWA-KE assured the ethical way of their practice, both for the fish and for their customers.

 

Broader social impact

Along with the commitment of providing healthy fish for the customers, IWA-KE also exercise socially beneficial practice. During the harvest season, the housewives in the neighbourhood (of IWA-KE’s location) will overtake the post-harvest activities, such as cutting, smoking and packing, and IWA-KE will provide financial compensation for them. By earning extra money, the local housewives can contribute to their household financials.

This provides further implication for the society. TaniFund, through the crowdfunding, helps IWA-KE to build more ponds. When the harvest season comes, the ponds will produce more fish and provide more jobs for more housewives in the area. A snowball effect.

Furthermore, IWA-KE is eager to share their knowledge with anyone who is interested. Not only knowledge on how to ethically breed fish, but also other things about fisheries, for example: how to properly kill fish and industrial insights.

This project with IWA-KE is one of the examples of Tani Group’s dedication in creating and maintaining social impact in their business activities. Empowered local farmers, connecting farms with people, together growing the future.

{:}