Pertanian di Indonesia dan Perkembangannya

peluang-sektor-pertanian-di-indonesia

Pertanian di Indonesia ditargetkan pada tahun 2045 menjadi lumbung pangan di dunia oleh pemerintah dan Kementerian Pertanian Indonesia. Kinerja ekspor pertanian terus menunjukkan dampak positif meski dihantam pandemi. 

Pertengahan Juli kemarin sektor pertanian mengalami pertumbuhan 24.10% dibandingkan beberapa bulan lalu. Laporan yang dilansir melalui website Kementerian Pertanian menyatakan bahwa kenaikan di bulan September lalu menjadi bukti bahwa peluang sektor pertanian Indonesia kedepannya akan semakin luas. 

Peran petani bagi kita tentu sangat berpengaruh terhadap laju perekonomian dan ketahanan pangan. Hasil pertanian Indonesia juga dipengaruhi oleh sarana dan prasarana demi menunjang produktivitas para petani. Untuk itu, yuk sama-sama kenali seperti apa pertanian di Indonesia saat ini! 

10 Hasil Pertanian Indonesia yang Potensial Diekspor

Berdasarkan data yang didapat dari Badan Pusat Statistik atau BPS, nilai total ekspor yang dimiliki oleh Indonesia selama tahun 2018 mencapai angka 180,06 miliar USD. Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 6,65% jika dibandingkan dengan periode di tahun sebelumnya.

Fokus utama pemerintahan saat ini adalah untuk memajukan ekspor pertanian Indonesia yang ditandai dengan hadirnya Gerakan Tiga Kali Ekspor (Geratieks). Hal ini difungsikan sebagai visi bersama untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian dari hulu ke hilir di Indonesia.

1. Lada

Sudah bukan rahasia lagi jika Indonesia terkenal di mata dunia karena kekayaan rempah-rempahnya. Salah satu rempah yang cukup populer dan memiliki banyak permintaan dari berbagai negara adalah lada. Selain dapat digunakan sebagai bumbu masak, lada juga biasanya digunakan untuk keperluan medis seperti untuk mengatasi sakit kepala dan mengobati batuk.

Indonesia sendiri saat ini menduduki urutan ketiga sebagai negara penghasil lada terbesar di dunia, setelah Vietnam dan India. Sebagai pemasok 11% kebutuhan lada di dunia, Indonesia berhasil meraup pendapatan dari ekspor lada mencapai angka 123 juta USD di tahun 2018. Persebaran daerah penghasil lada di Indonesia pun dinilai cukup luas, mulai dari Pulau Bangka, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, hingga Bengkulu.

2. Jagung

Sebagai salah satu bahan pangan utama di beberapa negara, jagung menjadi salah satu produk ekspor utama dari pertanian Indonesia. Menurut data yang dikeluarkan oleh BPS dan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, ekspor jagung Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan di tahun 2018 hingga mencapai 73 juta USD. Indonesia sendiri masih berada di urutan ke-8 sebagai negara penghasil jagung terbesar di dunia, setelah negara-negara seperti Amerika Serikat, Cina, dan Brasil.

3. Kopi

Indonesia hingga saat ini dikenal sebagai salah satu penghasil biji kopi terbaik di dunia. Dengan begitu banyaknya jenis dan karakteristik biji kopi yang dihasilkan, ekspor kopi Indonesia pada periode 2018 berhasil menyumbang devisa senilai lebih dari 662 juta USD. Berdasarkan data yang dilansir oleh World Atlas, Indonesia duduk di urutan ke-4 sebagai negara pengekspor kopi terbesar di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.

4. Vanili

Selain menjadi salah satu bahan yang sering digunakan sebagai pengharum makanan, vanili juga menjadi salah satu komoditas pertanian terbesar dari Indonesia. Di tahun 2016, Indonesia menempati peringkat ke-2 sebagai negara penghasil vanili terbesar di dunia setelah Madagaskar. Daerah produksi vanili di Indonesia pun cukup besar dan tersebar di berbagai pulau.

Salah satu vanili dengan kualitas terbaik dihasilkan di NTT, khususnya di daerah Flores. Selain itu, beberapa daerah produsen vanili juga tersebar di Sumatera Utara, Pati, Banyuwangi, dan Lampung.

5. Sayur-sayuran dan Buah-buahan 

Sejak tahun 2017, sayuran dan buah-buahan dari Indonesia banyak yang diekspor ke luar negeri. Tiga urutan tertinggi ekspor sayuran Indonesia adalah kubis, buncis dan selada air dengan ekspor sebesar 132.878 ton. Sedangkan untuk buah-buahan yang menempati urutan tertinggi di antaranya adalah kelapa, manggis dan pisang dengan rata-rata ekspor sebesar 173.865 ton. Sayuran dan buah-buahan yang dihasilkan dari Indonesia ini diekspor ke negara-negara seperti Jepang, Thailand, Malaysia, China dan 20 negara lainnya.

6. Tembakau 

Menurut data yang tercatat dari Badan Pusat Statistik (BPS) seperti Amerika Serikat, Sri Lanka, Belgia, Belanda dan Republik Dominika, sejak tahun 2017 negara-negara ini rutin mengimpor tembakau dari Indonesia. Pertembakauan ini juga ikut berkontribusi besar terhadap pendapatan negara melalui Cukai Hasil Tembakau (CHT). Namun, beberapa tahun ini hasil pertanian tembakau dinilai stagnan dikarenakan kurangnya modal bagi para petani.

7. Kopi 

Melalui data yang dikemukakan oleh BPS, Indonesia adalah produsen kopi ke-4. Namun secara ekspor, kopi Indonesia menduduki peringkat ke-13 di tahun 2018 lalu. Permasalahan yang dihadapi Indonesia dengan negara-negara pesaing khususnya seperti Vietnam adalah minimnya jumlah hasil produksi dan sertifikasi kopi. 

Mengapa kopi menjadi peluang yang potensial untuk pertanian Indonesia? Kualitas kopi robusta dan kopi arabika milik Indonesia telah terbukti lebih baik dibandingkan dengan Vietnam dan Brazil. Untuk mampu membidik pasar internasional, petani Indonesia seharusnya mendapat lebih banyak edukasi, modal dan paparan terkait potensi ekspor dan pasar internasional. 

8. Tanaman Obat & Aromatik

Penjualan produk herbal di Indonesia meningkat cukup signifikan seiring berjalannya waktu sejak tahun 2017. Pertumbuhan jamu dari tahun 2017-2022 diperkirakan tumbuh 9.8% setiap tahunnya. Untuk itu bagi para pengusaha UMKM, menyusun perencanaan bisnis jamu bisa dijadikan salah satu ide yang bagus. Terlebih di waktu pandemi seperti ini. 

9. Hasil Perikanan

Sejak tahun 2020, sub-sektor perikanan termasuk menjadi salah satu bidang yang mengalami pertumbuhan positif di kala pandemi. Meskipun demikian, laju pertumbuhan sektor perikanan tidak terlalu tinggi. 

Namun, menurut Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan menyatakan bahwa selama tahun 2021 ekspor kelautan dan perikanan meningkat 4.15%. Hal ini dikarenakan permintaan seafood di pasar global kian meningkat. 

Seharusnya dengan adanya pengoptimalan tenaga kerja hingga kreativitas membuat produk olahan bagi para UMKM dan petani tentunya sangat membantu petani agar dapat keluar dari kemiskinan. Sehingga ke depannya, sektor perikanan pun jika dioptimalkan bisa memiliki daya saing dan dapat menopang perekonomian. 

 10. Hasil Peternakan

Peternak telur khususnya memiliki peluang besar untuk melakukan ekspor. Hanya saja, saat ini yang cukup menjadi halangan adalah Nomor Kontrol Veteriner (NKV). Dimana secara tidak langsung, kebutuhan ini berkaitan langsung dengan permodalan usaha. Telur yang  dihasilkan wajib diperhatikan dari segi penanganan dan asal bahan hewan ‘ASUH’ yaitu aman, sehat, utuh dan halal. Sehingga semua hal ini diperhatikan melalui sistem budidaya, pemeliharaan hingga 

penanganan kesehatan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari ternak dari penyakit AI (Avian Influenza). Sehingga dengan hadirnya TaniFund yang mempertemukan para pengusaha ternak dengan para pemberi modal secara kolektif dapat membantu para pengusaha ternak untuk mengembangkan kualitas ternak yang mereka miliki.

Kondisi Pertanian Indonesia Saat Ini

Sektor pertanian saat ini dianggap sudah menempati posisi yang sentral terutama di masa pandemi. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 270 juta jiwa, pengelolaan sektor pertanian tentu saja harus dilakukan secara serius dan terfokus. Presiden sendiri menyatakan bahwa pembangunan dalam industri pertanian harus segera dilakukan secara detail, terutama untuk beberapa komoditas yang saat ini masih memerlukan impor.

Peran Pemerintah yang Belum Maksimal

Sebagai pemangku kebijakan untuk seluruh sektor bisnis termasuk pertanian, pemerintah memang diharapkan mampu memberikan solusi serta perhatiannya untuk bisa mengembangkan potensi dan peluang yang ada. Mayoritas petani di Indonesia sendiri hingga saat ini memang masih berskala kecil, sehingga pendapatannya pun tidak seberapa. Dibutuhkan peran aktif pemerintah untuk dapat memfasilitasi serta meningkatkan pendapatan para petani kecil.

Pola Pikir yang Salah

Tak dapat dipungkiri memang pola pikir sebagian besar masyarakat Indonesia masih salah terhadap sektor pertanian. Sektor pertanian memang masih dianggap remeh dan kurang menjanjikan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan industri atau peluang usaha lain. Itulah mengapa pemerintah serta seluruh lapisan masyarakat yang memiliki kepentingan di sektor pertanian harus aktif dalam mengedukasi masyarakat Indonesia terkait peluang sektor pertanian.

Alih Teknologi yang Lambat

Rasanya hampir di seluruh sektor bisnis atau usaha saat ini sudah melibatkan teknologi dalam setiap prosesnya, tak terkecuali untuk industri pertanian. Salah satu negara yang sudah menerapkan teknologi untuk pertaniannya adalah Jepang.

Di Indonesia sendiri, khususnya di beberapa daerah memang masih belum menerapkan teknologi dalam proses produksi saat menanam ataupun memanen hasil tani. Hal tersebut tentu saja dapat menghambat peluang untuk memanen hasil tani yang lebih banyak jumlahnya. Selain itu, pengetahuan beberapa petani juga bisa dibilang masih kurang seperti dalam hal pembasmian hama yang mengakibatkan seringnya terjadi kegagalan panen.

TaniFund Hadir sebagai Solusi Pertanian Indonesia

Sebagai bentuk kepedulian dan rasa tanggung jawab untuk bersama-sama memajukan industri pertanian di Indonesia, TaniHub Group melalui TaniFund hadir sebagai solusi untuk petani Indonesia. TaniFund merupakan sebuah platform peer-to-peer (P2P) lending yang memiliki fokus utama pada industri agrikultur di Indonesia.

Target dan tujuan dari TaniFund adalah mempertemukan pemberi modal dan petani lokal melalui sistem pinjaman modal produktif dengan risiko terukur yang memiliki dampak sosial ke depannya. 

Selain itu TaniFund juga ikut menyediakan dana bagi para pengusaha mikro di bidang agrikultur untuk memajukan sistem penjualan hingga perkembangan usaha kedepannya. Misalnya Anda ingin membuka toko buah, maka hal yang Anda perlu lakukan adalah melakukan pengajuan pendanaan usaha Anda melalui halaman pinjaman

Keuntungan yang Bisa Didapat oleh Pemberi Modal

Selain dapat berkontribusi untuk membangun sektor pangan Indonesia, Anda juga dapat berkontribusi untuk berdampak secara sosial terhadap kesejahteraan para petani. Selain itu, Anda juga dapat menikmati pembagian hasil yang transparan antara Anda dan petani. Berikut berbagai keuntungan yang Anda bisa dapatkan:

1. Mulai dari Modal Kecil

Di TaniFund, Anda sebagai pendana atau pemilik modal sudah dapat memulai pendanaan dan memberikan dampak pada pertanian Indonesia mulai dari Rp 100.000 saja.

2. Bunga yang Menarik

Di TaniFund, Anda bisa mendapatkan bunga hingga 18% p.a dengan sistem perhitungan yang adil. Pengembalian bunga diberikan per bulan atau akhir periode tergantung proyek yang Anda pilih.

3. Dampak Sosial yang Nyata

Dengan menjadi pendana modal dan melakukan pendanaan di TaniFund, Anda sudah turut membantu kesejahteraan petani Indonesia melalui akses pasar dan permodalan. Rata-rata, mitra petani TaniFund merasakan lebih dari 25% peningkatan pendapatan dan lebih dari 48% peningkatan hasil panen. Sehingga dengan memberikan mereka akses permodalan, Anda juga turut memberikan mereka peluang untuk meraih kesejahteraan.

4. Risiko yang Terukur

Di TaniFund, pertumbuhan dana Anda akan terus dipantau dan juga akan dilakukan pendampingan lapangan oleh pakar pertanian secara langsung. TaniFund juga telah berizin dan diawasi oleh OJK, memiliki asuransi dengan coverage dana pokok hingga 80%, serta memiliki sertifikasi ISO 27001 mengenai Manajemen Keamanan Informasi.

Jadi, tunggu apalagi? Mari bersama majukan sektor pertanian Indonesia, tanamkan modal Anda dan nikmati hasil panennya langsung bersama petani lokal Indonesia hanya di TaniFund! Sudah waktunya lebih cerdas untuk memajukan sektor pangan Indonesia.