Impulsive buying adalah kecenderungan yang biasanya terjadi karena beberapa penyebab yang mengakibatkan seseorang seperti tidak mampu mengontrol perilakunya. Terutama dalam perihal membeli barang-barang yang sebenanrnya tidak dibutuhkan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Herman (2018) dalam jurnal Risk Taking & Impulsivity dikemukakan bahwa impulsif dan risk taking adalah 2 hal yang berbeda. Impulsif condong mengarah kepada sistem buruk dalam diri. Yuk, simak selengkapnya disini!

Apa Itu Impulsive Buying?

Jika diartikan secara harfiah, impulsif adalah perilaku atau tindakan yang dilakukan tiba-tiba menurut gerak dan keinginan hati. Perubahan mood seseorang sangat mempengaruhi motif seseorang dalam berlaku. Sehingga, pada orang yang impulsif ini dapat mengakibatkan  perilaku atau tindakan seseorang dapat cepat berubah tanpa adanya rencana sebelumnya yang pasti. Perubahan tersebut juga biasanya lebih bersifat irasional dan tanpa adanya alasan yang kuat.

Sama halnya dengan Impulsive buying adalah kecenderungan seseorang untuk membeli barang-barang yang fungsinya tidak begitu penting. Namun, ada beberapa penyebab yang menyebabkan seseorang menjadi seorang yang menjadi terlalu impulsif. 

Semakin dewasa seseorang, biasanya akan lebih mampu dalam belajar mengendalikan sifat impulsif yang ada pada diri. Untuk mencegah perilaku impulsif, hal yang bisa dilakukan adalah memahami maksud dari delay gratification. Jika memahami bagaimana sistem dan perilaku ini bekerja, Anda dapat menjadi lebih efektif lagi dalam bekerja. Mengapa? Menurut cuplikan buku dari “Seni Menghasilkan Uang” Brian Tracy mengatakan bahwa semakin banyak Anda menghasilkan, maka semakin banyak juga pengeluaran yang akan Anda keluarkan. 

Mengapa hal ini bisa terjadi? Ini disebabkan karena sosok individu ini cenderung melihat uang sebagai alat pembayaran dan bukan sebagai aset. Jadi, semua pengeluaran akan cenderung mengarahkan diri Anda pada liabilitas saja. Maka ada baik nya untuk Anda mengoreksi tujuan keuangan Anda, berapa dana pensiun yang Anda butuhkan hingga umur berapa Anda hendak mengejar waktu pensiun Anda. 

Impulsif dan Kegagalan Mengatur Keuangan

Jika impulsif adalah sebuah perilaku yang dapat dengan cepat berubah-ubah tanpa alasan yang jelas, lain halnya dengan kompulsif. Kompulsif sendiri dapat diartikan sebagai sebuah perilaku dimana seseorang mengalami gangguan kecemasan. Kecemasan tersebut biasanya akan memaksa orang yang menderitanya untuk mengulang suatu tindakan secara terus menerus. Biasanya kompulsif dikenal dengan Obsessive Compulsive Disorder (Gangguan Obsesif Kompulsif). Lalu apa hubungannya dengan keuangan? Sifat impulsif yang tidak bisa dikendalikan dengan baik bisa menyebabkan keuangan Anda tergerus. Kebiasaan sifat impulsif ini seringkali terjadi pada saat Anda melakukan investasi atau membeli barang-barang yang kurang berguna. 

Hasil penelitian jurnal Risk Taking & Impulsivity  mengemukakan bahwa 80% dari orang-orang kebanyakan sadar bahwa sifat impulsif adalah hal yang buruk dan barang yang mereka beli sebenarnya tidak begitu dibutuhkan. Faktor yang mempengaruhi impulsivitas setiap orang adalah hal-hal seperti kekuatan secara pamor sosial, kecemasan, dorongan spontanitas, stimulasi kegembiraan dan konsekuensi. Namun, sadarkah Anda bahwa hal-hal demikian seringkali berujung pada keputusan yang sia-sia dan bahkan cenderung merugikan!

Apakah Impulsif Termasuk Gangguan?

Sebenarnya jika dilihat secara umum, perilaku impulsif bukanlah sebuah gangguan. Setiap orang bisa saja bertindak berdasarkan impulsnya sesekali dan hal itu sangatlah wajar. Perilaku impulsif yang sudah tergolong ke dalam gangguan adalah saat sudah mempengaruhi kesehatan mental lainnya pada diri seseorang.

  • Seseorang memiliki pola perilaku impulsif yang selalu berulang.
  • Seseorang sudah tidak mampu lagi untuk mengendalikan perilaku impulsifnya.
  • Seseorang mengalami tanda serta gejala penyakit mental lainnya.

Terdapat beberapa kondisi psikologis atau penyakit mental lainnya yang membuat seseorang memiliki kecenderungan untuk melakukan perilaku impulsif dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

  • ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).
  • Kleptomania.
  • BPD (Borderline Personality Disorder).
  • Penyakit Parkinson.
  • Bipolar.

Karakteristik, Gejala & Tanda Perilaku Impulsif

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), orang yang impulsif biasanya memiliki beberapa karakteristik seperti cenderung pemarah, melakukan sesuatu yang yang tidak terduga, agresif, kondisi mental tidak stabil dan mudah terganggu. 

Seseorang yang memiliki sifat impulsif biasanya akan bertindak dan melakukan sesuatu sesukanya tanpa memikirkan konsekuensi serta resiko dari perilaku yang akan dilakukan. Beberapa contoh gejala serta tanda seseorang memiliki kecenderungan impulsif adalah sebagai berikut:

  • Terlalu memanjakan diri sendiri dalam hal-hal tertentu seperti makan, berbelanja, hingga yang paling parah berjudi.
  • Memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri dalam kondisi marah, kecewa, ataupun sedih.
  • Memiliki kecenderungan oversharing kepada orang lain tanpa berpikir akibat serta risikonya.
  • Memiliki kecenderungan emosi yang sering meledak dan kehilangan ketenangan tanpa alasan yang jelas.
  • Memiliki kecenderungan untuk menghancurkan barang atau properti diri sendiri maupun orang lain di saat marah.
  • Memiliki kecenderungan untuk membesar-besarkan masalah dari yang sebenarnya terjadi.
  • Memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan fisik secara mendadak tanpa alasan yang jelas.
  • Sering keluar atau masuk grup untuk mencari serta memulai awal yang baru tanpa alasan dan motif yang jelas.

Faktor & Penyebab Perilaku Impulsif

Proses setiap orang dalam membuat keputusan merupakan sebuah proses yang sangat kompleks, sehingga penyebab dari sifat impulsif akan sulit untuk ditemukan secara jelas. Terdapat beberapa alasan lain yang bisa mempengaruhi perilaku seseorang dalam mengambil sebuah keputusan diluar sifat impulsif itu sendiri. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi sifat impulsif seseorang adalah berbagai faktor genetik, lingkungan, keberfungsian kondisi otak dan trauma masa kecil. 

Studi yang dilakukan oleh PubMed Central menunjukan bahwa sifat impulsif seseorang mungkin memiliki hubungan dengan bagian otak lobus prefrontal. Beberapa penelitian lain juga menunjukkan hubungan antara perilaku impulsif seseorang dengan konektivitas otak. Beberapa aspek yang mungkin berhubungan dengan perilaku impulsif sejauh ini adalah:

  • Kepribadian seseorang.
  • Fungsi otak seseorang.
  • Konektivitas otak seseorang.
  • Beberapa kondisi fisik lainnya seperti stroke juga dapat mengakibatkan gejala atau perilaku impulsif pada seseorang.

Impulsive Buying Adalah Habit yang Tidak Baik

Impulsive buying adalah habit yang tercipta karena kebiasaan yang Anda berikan celah dari waktu ke waktu. Sehingga aktivitas tersebut menjadi pola dalam diri. Ini bisa disebabkan dari kurangnya eduaksi keuangan sedari dini, pola ini disebabkan oleh dopamin. Menurut penelitian yang dikemukakan Pyschology Today dopamin lebih banyak dikeluarkan disaat seseorang hendak merasa excited terhadap hal apa yang akan mereka raih.

Misalnya saja, saat berbebelanja yang membuat menarik bagi para pembeli adalah proses mereka membayangkan meraka akan membeli hingga saat mereka hendak melakukan pembelian. Justru bukanlah saat mereka sudah membeli. Jadi, untuk memberhentikan impulsive buying Anda bisa memberikan pengertian dan pertanyaan ke dalam pemikiran Anda “Apa manfaat dari membeli ini? Benarkah langkah ini membuat Anda puas dan senang?” Jika jawaban yang Anda dapatkan adalah keraguan. Maka, sebenarnya Anda hanya membuang uang saja. 

Biasakan untuk menghentikan kebiasaan buruk sejak dini, karena jika dibiarkan ini akan merusak sistem dalam diri Anda. Hindari untuk membiarkan ini terjadi, biasakan untuk menjadi lebih mindfull dan sadar dalam berpikir sebelum hendak melakukan sesuatu. Buruknya jika And tetap membiarkan ini pada diri Anda, kedepannya akan sulit bagi Anda untuk menabung dan menghasilkan sesuatu yang nilainya berguna dan produktif untuk jangka panjang. Jadi, impulsive buying adalah habit yang wajib Anda minimalisir, ya! 

Cara Mengontrol Perilaku Impulsif Agar Tidak Boros

Menurut buku Atomic Habits, disana dijelaskan bahwa cara mengontrol habit buruk adalah dengan cara mengedukasi diri terkait keuntungan dan kerugian dari melakukan sebuah habit yang buruk. Dengan melakukan pointing dan habit stacking ini bisa membantu Anda untuk memfokuskan diri untuk melakukan hal-hal yang positif saja. Sehingga, Anda berusaha untuk tidak memberikan celah diri Anda untuk melakukan hal-hal negatif.

 Nah, perilaku impulsif pada seseorang sangat bergantung pada penyebab serta kecenderungan yang dimiliki oleh masing-masing orang. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengontrol perilaku impulsif antara lain:

  • Membiasakan diri dalam membuat skenario-skenario yang mungkin terjadi serta berlatih untuk berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan atau mengambil suatu keputusan.
  • Mencoba untuk mengurangi kebiasaan perilaku impulsif dalam berbelanja, memanjakan diri, serta beberapa hal lainnya.
  • Memiliki planning kegiatan harian yang jelas untuk dilakukan. Ingatkan diri pada tujuan dan resolusi keuangan hingga pencapaian tahunan yang Anda ingin raih. 
  • Mencoba untuk melakukan analisa pengeluaran uang dan memiliki cara efisien lainnya untuk mengelola uang. Misalnya dengan memilih instrumen pendanaan yang tepat.

Lakukan Hal Produktif, Mulai Buat Resolusi Keuangan! 

Impulsif adalah sebuah habit yang tentunya wajib ditekan, mengapa? Menurut beberapa penelitian khususnya NCBI menjelaskan bahwa perilaku impulsif seseorang cenderung membawanya menjadi pribadi yang merugikan baik bagi diri sendiri maupun sekelilingnya. Nah, untuk mencegah hal ini terjadi mulailah dengan memetakan tujuan hidup dan keuangan Anda dengan baik. 

Mengapa? Faktor keuangan adalah salah satu hal yang sangat mempengaruhi kualitas kehidupan Anda. Jadi, dengan mengatur resolusi keuangan dengan baik. Maka, dengan sendirinya Anda akan menjadi lebih memaknai barang-barang yang Anda beli. Pilihlah produk investasi atau pendanaan yang terpercaya dan hindari tindakan gegabah saat melakukan pendanaan.

TaniFund adalah platform P2P lending Agrikultur terbaik yang bergerak dalam bidang pertanian. TaniFund menjadi wadah yang mempertemukan pendana dan peminjam dalam suatu platform. Dengan menggunakan platform pendanaan pertanian ini secara bijak, Anda dapat menjadi lebih baik dalam pengelolaan keuangan. Juga Anda secara tidak langsung ikut berkontribusi dalam membangun berbagai proyek pertanian Indonesia menjadi lebih baik. Mulai pendanaan dari Rp100.000 dan mari berdampak bagi para petani lainnya!